Pax Romana

psikologi stabilitas politik dan harga yang harus dibayar untuk perdamaian

Pax Romana
I

Pernahkah kita merasa sangat lelah dengan berita politik yang isinya ribut melulu? Kadang, rasanya kita cuma ingin hidup tenang, harga sembako stabil, dan tidak ada konflik yang menguras emosi. Nyatanya, kerinduan akan stabilitas ini tidak muncul begitu saja, melainkan sudah tertanam kuat di DNA kita. Mari kita mundur ke dua ribu tahun lalu, ke sebuah era yang sering disebut sebagai puncak kedamaian umat manusia: Pax Romana. Selama lebih dari dua abad, wilayah yang membentang dari Inggris hingga Timur Tengah hidup tanpa perang besar. Kedengarannya seperti utopia, bukan? Tapi tunggu dulu. Kedamaian yang legendaris ini ternyata menyimpan sebuah paradoks psikologis yang cukup gelap, dan mungkin, masih sangat relevan dengan cara kita memandang dunia hari ini.

II

Selama kurang lebih dua ratus tahun, dari zaman Kaisar Augustus hingga Marcus Aurelius, Kekaisaran Romawi menikmati stabilitas yang luar biasa. Secara neurosains, otak manusia itu pada dasarnya adalah mesin prediksi. Ketika lingkungan kita stabil dan bisa ditebak, otak tidak perlu terus-menerus menyemprotkan hormon stres seperti kortisol. Tanpa beban kewaspadaan yang berlebihan, kita jadi punya ruang mental ekstra. Ruang inilah yang dipakai oleh peradaban Romawi untuk membangun jalan raya raksasa, menciptakan karya seni yang indah, dan memajukan perdagangan. Ekonomi meledak pesat. Teman-teman bisa membayangkan betapa nyamannya hidup di era di mana besok sudah pasti aman. Warga tidak perlu cemas rumah mereka mendadak diserbu pasukan musuh di tengah malam. Namun, di balik rasa aman yang begitu memabukkan ini, ada sebuah mekanisme tersembunyi. Pelan-pelan kita harus bertanya: dari mana datangnya stabilitas absolut ini, dan siapa yang sebenarnya sedang membayar "tagihan" dari kedamaian tersebut?

III

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat ke balik tirai bagaimana stabilitas politik itu dibentuk. Otak kita memang mencintai rasa aman, tetapi psikologi evolusioner juga mencatat bahwa manusia punya kebutuhan dasar yang tak kalah penting: otonomi, atau kebebasan untuk mengendalikan hidup sendiri. Di sinilah letak gesekannya. Di masa Pax Romana, kedamaian bukanlah hasil dari pelukan hangat antar suku bangsa yang tiba-tiba saling memaafkan. Sama sekali bukan. Kedamaian itu adalah produk dari sebuah sistem kontrol yang sangat brutal. Romawi tidak menghilangkan konflik. Mereka hanya memonopoli kekerasan. Bayangkan hidup dalam sebuah ketenangan yang absolut, tetapi ketenangan itu lahir karena ada pedang raksasa yang selalu menggantung tepat di atas leher kita. Jika kedamaian tercipta semata-mata karena ketakutan yang luar biasa, apakah itu masih bisa disebut kedamaian?

IV

Inilah realitas pahit dari Pax Romana yang jarang diceritakan dalam dongeng-dongeng sejarah. Stabilitas politik dan ekonomi tersebut dibeli dengan harga yang sangat mahal: penaklukan berdarah, perbudakan massal, dan hilangnya kebebasan mutlak bagi mereka yang ditaklukkan. Sejarawan Romawi kuno, Tacitus, pernah menulis sebuah kalimat yang sangat menohok dari sudut pandang musuh Romawi: "Mereka menciptakan gurun pasir, dan menyebutnya kedamaian." Secara psikologis, apa yang dilakukan Romawi adalah bentuk coercive control atau kendali koersif dalam skala kekaisaran. Rakyat merasa aman bukan karena mereka dihormati haknya, tetapi karena mereka patuh secara total. Jika ada satu provinsi yang berani protes atau memberontak, legiun Romawi akan datang, menghancurkan kota tersebut, dan menjual seluruh penduduknya sebagai budak. Stabilitas harga gandum dan hiburan mewah di Roma dibayar lunas dengan darah dan trauma generasi yang ditaklukkan di perbatasan. Kita melihat sebuah anomali psikologis yang mengerikan di sini: manusia ternyata bersedia menutup mata terhadap kekejaman yang ekstrem, asalkan kekejaman itu terjadi cukup jauh dari rumah mereka, dan asalkan hidup mereka sendiri tetap nyaman.

V

Menengok kembali ke Pax Romana membuat saya merenung. Ribuan tahun berlalu, tetapi dorongan psikologis kita tidak banyak berubah. Kita masih sering dihadapkan pada ilusi pilihan yang sama: kebebasan yang berisiko tinggi, atau stabilitas yang mengekang. Di era modern ini, seberapa sering kita tergoda untuk menoleransi pemimpin yang otoriter asal ekonomi negara stabil? Sejarah dan sains mengingatkan kita bahwa kedamaian sejati tidak pernah datang dari represi dan pembungkaman. Kedamaian yang dipaksakan melalui rasa takut pada akhirnya hanyalah bom waktu yang sedang berdetak pelan, menunggu generasi yang lelah untuk meledakkannya. Jadi, teman-teman, ketika suatu saat nanti kita ditawari janji-janji manis tentang stabilitas politik dan ketertiban tanpa syarat, mungkin kita perlu berhenti sejenak, mengambil napas, dan bertanya kritis: kedamaian ini indah sekali, tetapi siapa yang sedang membayarnya?